Daisypath Anniversary tickers

Apr 12, 2007

Kualitas Pendidikan Terbaik di Dunia

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di dunia? Kalau Anda tidak tahu, tidak mengapa karena memang banyak yang tidak tahu bahwa peringkat pertama untuk kualitas pendidikan adalah Finlandia. Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di seluruh dunia.

Peringkat I dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survei internasional yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas. Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi Top No 1 dunia? Dalam masalah anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya. Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji mereka tidaklah fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!
Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula.

Dengan kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula. Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. “Terlalu banyak testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian.” ungkap seorang guru di Finlandia.,”Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian.” Pada usia 18 siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! “Ini membantu siswa belajar betanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri,” kata Sundstrom, kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia,” Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.”
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan. “Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan apa yang dikatakan oleh guru. Disini guru tidak mengajar dengan metode ceramah.” Kata Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. “Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan.” Sambungnya.

Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik menurut OECD. Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan prilaku siswa membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya: Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu
untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka, jika kita mengatakan ‘Kamu salah!’ pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di kelasnya.

Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. “Kalau saya gagal dalam mengajar seorang siswa,” kata seorang guru,” maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya.”. Benar-benar ucapan guru yang bertanggungjawab.

Diambil dari “Top of the Class” Fergus Bordewich.

Apr 10, 2007

Heaven by NIDJI (OST. Heroes)

Weks!!
Baru dapet info dari tayangan infotainment di tipi.
Prestasi yang cukup membanggakan karena salah satu lagu Nidji yang judulnya 'Heaven' dijadiin soundtrack untuk film serial Heroes khusus untuk regional Asia.

Di tipi Star World pernah ditayangin trailer-nya, kalo pengen liat ada disini nih:

Apr 3, 2007

Pindah Ruang..

Pagi ini nyampe kampus rada pagi dibanding biasanya, gara2 tugas ngawas keliling UTS jam 8. Dengan semangat yg membara (maklum, baru beberapa jam lalu ketemu lagi ama masku tersayang yg sempet ngilang lebih dari seminggu), kutelusuri koridor gedung A. Lho, lho.. ada yg aneh dengan pemandangan di depan ruang kerjaku. Beberapa hari belakangan ini kan ada sejumlah meja n kursi yg menumpuk tak beraturan di samping kiri dan kanan pintu masuk ruang sempit itu. Kok sekarang da bersih ya??
Tanyaku terjawab sudah segera setelah kubuka pintu. Tarrra... tak cuma depan pintu ruangan yg tertata rapi, tp juga bagian dalamnya! Bersih banget! Barang2 'pribadi' 4 dosen sudah tak ada di dalam 'gudang' itu. Hebat kan?? (pembaca yg da sempet liat kondisi ruangku beberapa bulan ini, pasti tau maksudku..)

Wahhh.. pasti barang2 kami sudah dipindah ke ruang sebelah. Beberapa hari belakangan ini kami memang dijanjikan untuk pindah ruang kerja ke tempat yang lebih luas. Sementara itu, ruang yang semula kami tempati akan dialihfungsikan menjadi ruang sidang/ seminar (kembali ke fungsi semula).
***

Benar saja.. Di ruang yg baru, dengan mudah dapat kutemukan barang2-ku tercinta. Hmm.. setengah jam berputar2 di 'daerah kekuasaan'-ku, terasa ada yg aneh. Coba perhatikan, berikut ini adalah layout 'ruang'-kerjaku.



Wehehehehe.. Lebih luas sih, daripada ruangku sebelumnya. Tapi kok susah ya, pindah dari hadapan meja komputer ke meja utama. Trus, kok jauh ya, kl mo ngambil2 barang di lemari ataupun kabinet2?? Hmm.. musti diubah ni. Gmn yah, enaknya..

~ Back To Bandung ~

Hari ini masuk kerja seperti biasa setelah seminggu kemaren bekerja di luar daerah karena dapet tugas perjalanan dinas di Malang.

Dan seperti pagi2 biasanya harus kembali berjibaku dengan kemacetan dan lumpur sisa hujan semalam.

Bandung..I'm back!

(Udah ah...mo bikin laporan n pertanggungjawaban panjar, masalah sensitif niy!)

Apr 2, 2007

Selamat Pagi..

Pagi ini, keberangkatanku ke kampus rada terhambat gara2 'kecantol' Dik Doank n Dessy R. di acara Selamat Pagi. Beberapa topiknya (yg sempet mampir ke telingaku aja) cukup menggelitik.
***

Pas aku baru lihat, reporter jalanannya (lupa sapa namanya, bsk kucari tau deh) lagi nongkrongin palang kereta api di jalan sempit daerah Klender, Jakarta. Ceritanya, di situ tuh ada petugas penjaga palang KA yg standby di sekitar posnya, palang KA-nya OK, bunyi peringatan kalo bakal ada KA lewat juga beroperasi dengan baik. Si reporter ini mo cari tau, para pengemudi patuh ga siyyy..

Hua hahahaha. Udah ketebak sih, hasilnya!
Yakk.. satu orang pelanggar, dua.. tiga.. empat (yang ketangkep kamera). Hehehehe.. puas banget si reporternya ketawa karena nemu buruannya. Lebih ngakak lagi dia pas seorang pelanggar palang sukses nyeberang rel kereta, tapi setelah itu ga nemu jalan di seberang gara2 udah penuh ama kendaraan dari arah sebaliknya! Hihihihi..
Dua pelanggar di-stop n diwawancarai pada waktu yang berbeda. Kompak banget lho, jawabannya! Kira2 demikian petikan wawancaranya..

Reporter : "Pak, boleh tau ga.. kan palang KA udah turun, petugas udah nyemprit2, peringatan juga udah bunyi tuh.. Trus knapa bapak tetep aja nerobos?"
Pelanggar: "Kan belum lewat.. Biasanya jg gitu gpp kok."
Reporter : "Ga takut tuh, kl tiba2 keretanya melintas gmn?"
Pelanggar: "Kalo keretanya lewat, ya ketabrak.. Tapi kan udah nengok kiri-kanan dulu tuh.. Jd ya gpp!"

Welleh!
***

Topik berikutnya.. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Udah sering dibahas sih.. Tp kali ini ada penanya (via SMS) yg kurang lebih bilang gini:
"Kan biasa tuh, kl istri melaporkan kekerasan yg dilakukan si suami. Kl sebaliknya, suami yg jadi korban tindak kekerasan istri, apakah disebut KDRT juga? Apakah boleh dilaporin juga?"

Iya yah?? Padahal ada juga kasus begitu. Kenapa jarang disorot? Kl muncul di berita juga paling satu ato dua kali disebut, trus ilang. Beda kalo istri yg jd korban. Dibahaa..as aja terus! Hehehe.

Kok kesannya aku ga belain kaumku yah?? Bukan gt sih.. heran aja. Apakah karena perempuan [masih] dianggap sebagai pihak yang lemah? Ato pihak lelaki yang jadi korban malu kalau di-ekspos terus? Merasa harga dirinya tercoret kl melaporkan istri yg semena-mena? Atau.. yg paling mungkin.. lelaki yg jadi korban bisa dengan mudahnya melakukan pembalasan, bahkan yg lebih kejam dari tindak kekerasan si istri??
Wahhh.. ga tau deh!
***

Bahasan lain, yg ga kutonton sampai selesai.. Ada dokter (kayaknya spesialis THT) yg ditanya,
"apakah membersihkan telinga dengan cotton bud [bener ga ya, nulisnya?], terutama pada bayi, itu baik?"
Jawabnya, "Sebaiknya itu tidak dilakukan. Sebenernya, Tuhan tuh udah bikin mekanisme yang sedemikian sempurna sehingga kotoran dalam bentuk apapun yg masuk ke telinga itu bisa keluar sendiri. Membersihkan telinga dengan alat apapun justru berbahaya bagi telinga. Cotton bud sebaiknya dipakai hanya untuk membersihkan relung2 telinga bagian luar. Di lipatan2 pada daun telinga."
"Tapi kan jorok, bu..", kata Dik Doank.
"Kotor itu perasaan kita aja kok. Kotoran yg mengganggu sih normalnya bakal keluar sendiri. Kecuali pada kasus khusus: penyakit, kemasukan serangga, dll. Kalau kita bersihin sendiri, berbahaya terutama karena di dalam telinga tuh ada membran timpani yg tipiiiis banget dan gampang pecah. Kl itu pecah, infeksinya ga cuma membahayakan pendengaran tapi juga indra penciuman."

Ooo...