Daisypath Anniversary tickers

Aug 2, 2007

Pekerja IT Paling Rentan Perceraian

(Amelia Ayu Kinanti - detikHot, Rabu, 01/08/2007 11:51 WIB)

Jakarta, Pekerja IT yang mapan dalam pekerjaan dan punya gaji tinggi ternyata tak menjamin kelanggengan hubungan pernikahan. Menurut survey terbaru tingkat perceraian pada pekerja di sektor ini makin meningkat.

Selain menggiurkan dengan gaji besar, bidang pekerjaan yang sedang naik daun ini ternyata juga punya risiko sendiri. Menurut T.K.R. Sudha, salah satu pengacara di pengadilan tinggi Madras, India, 40 persen dari kasus perceraian yang ditanganinya merupakan pasangan pekerja IT professional dan pasangan yang bekerja di bidang BPO (Bussines Process Outsourcing). Demikian indiatimes, Rabu (1/8/20007).

Di Kota Chennai, India setahun terakhir ini tercatat ada 3000 kasus perceraian yang didaftarkan di pengadilan tinggi. Pengadilan Keluarga yang biasanya sepi, tiba-tiba menjadi sibuk karena banyaknya kasus perceraian yang didaftarkan, sampai-sampai para pengacara merasa kesulitan menangani seluruh pekerjaan mereka. Kota Chennai dan daerah sekitarnya merupakan tempat tinggal (kurang lebih) dua ratus ribu pekerja IT dan BPO.

Dr. S Nambi, mantan President of Indian Psychiatrists Association, merasa profesi ini (programmer perangkat lunak) harus membayar mahal atas tawaran dan gaya hidup yang ditawarkan oleh pekerjaannya itu. Karena pekerjaan IT ini memeras otak dan merupakan pekerjaan yang sarat kompetisi, emosi tinggi sering melanda mereka, dan hal tersebut membawa dampak pada kehidupan keluarganya.

Karena permasalahan mental ini, banyak yang mengalami masalah dalam hubungan seksual yang berakibat pada keretakan rumah tangga, ungkapnya. Sekitar umur 28, mereka menjadi hyper sensitive. Pada usia 35 mereka akan merasa lelah (secara mental) dan capek, kata Nambi, yang kliniknya dipenuhi oleh sejumlah pasangan untuk konseling. (fta/fta)

2 comments:

Guntur said...

Hmm...memang siy mungkin salah satu penyebabnya karena tekanan pekerjaan yang membuat mereka jadi sensitive atau bahkan hiper sensitive..
Mungkin ada salah satu faktor lain lagi.
Gaji pekerja IT di sana sangat tinggi, sehingga memungkinkan mereka lebih menikmati kehidupannya sendiri dan bahkan terlalu menikmati karena mereka sanggup membayar apapun untuk kehidupan mereka sendiri.
Jadi perasaan mandiri berlebihan itulah yang memunculkan anggapan :
'saya bisa hidup sendiri, ngapain punya suami/istri?'
pemikiran inilah yang bisa mendorong seseorang unruk berani menghadapi perceraian.

Well, ini cuma one point of view dariku...

Anonymous said...

Untung aku kerja di bidang pendidikan, ya.. bukan IT.
Hehehehe..
:D

-IMA-