Daisypath Anniversary tickers

Apr 22, 2007

My Beloved Family

Minggu lalu aku sempet menghabiskan waktu (yang dipaksa) luang dengan keluarga tercinta di Semarang. Beda banget lho, dengan suasana liburan biasanya.. yg cm sehari-dua kumpul bareng keluarga. Kali ini.. seminggu! Ehm.. lebih sih. Kamis sore (5 April tahun ini) berangkat dari Bandung, minggu dini hari (15 April tahun yang sama) udah nyampe di Bandung lagi. Berarti 10 hari yah? Yah, gitu deh kira2.

Beda banget.. Jadi lebih mengenal lagi masing2 anggota keluarga yg biasanya jauh dari jangkauan. Jadi tau perkembangan terkini dan kondisi terakhir bapak, ibu, dan adek di rumah. Ternyata.. lumayan jauh beda dengan informasi yg kudapat dari hubungan2 telepon selama aku di perantauan.

=======
Bapak..
=======

Hmm. Orang tua yang sudah menjelang renta ini tetap saja bersemangat dalam setiap aktivitasnya.

Pekerjaan rutinnya mengharuskan beliau berangkat pagi pulang petang. Setiap pulang kerja, senyum yg semanis belasan tahun lalu (sepanjang ingatanku) masih terkembang di wajahnya yang dihiasi kumis dan jenggot tipis yang mulai memutih. Seruan,
"Anakku.. ",
masih lantang diucapkannya sembari membuka pintu depan rumah walau tak ada bocah2 ingusan yang berebutan sembunyi di bawah meja makan atau di belakang pintu sambil terkikik-kikik menahan tawa, sekedar cari perhatian dan sedikit merepotkan Bapak dengan mencari-cari.

Waktu luangnya dihabiskan dengan senam ringan (geleng kepala, pushup, situp, sampai mencari t*l*k bebek - gaya senam favoritnya) sambil tak henti-henti mengajak putri-putri kecilnya yg lebih memilih membunuh waktu dengan menyaksikan infotainment. Segala macam janji dan jaminan diberikan:
"Ayo, gini.. ga bakal pusing lagi",
"Yonk, gerakan ini kalau dilakukan tiap hari bisa ngusir sakit perut selamanya! Bapak sudah buktikan",
"Ayo, I, memperlancar peredaran darah ni",

tapi kami anak2nya tetap tak tertarik walau kadang mau juga mengikutinya dengan terlebih dulu melipat muka. Padahal ajakan2 itu lebih dari cukup untuk menunjukkan betapa Bapak mengenal dan sangat peduli pada anak2nya.

Waktu luang lainnya dimanfaatkannya untuk menghibur diri, dengan permainan sederhana yang kuperkenalkan sejak rumah sederhana kami mendapat sentuhan teknologi - komputer. Kegemarannya adalah menyusun bola aneka warna dalam jumlah tertentu dan memperoleh poin, tapi kini mulai bergeser dengan permainan lain sejenisnya. Bola2 aneka warna tetap muncul. Kali ini, bola2 itu ditembaki dengan senjata katak. Hehe.

Di malam hari, beliau suka menambah menu makan malam dengan sepiring nasi goreng iso yang dijajakan berkeliling oleh penjaja yang sudah hafal selera beliau di luar kepala.

=====
Ibu..
=====

Memang tepat kl orang bilang, "Surga di telapak kaki ibu". Ibuku juga pantes dapet 'kehormatan' itu. Beliau seorang yg 'perkasa'! Walau ga ditunjukkannya dengan manjat genteng atau mendaki gunung lewati lembah dan kristalisasi keringat seorang diri, ibu beneran nunjukin bahwa wanita bisa disejajarkan dengan pria dalam banyak perkara.
Berangkat pagi dengan seragam kebesarannya semakin besar dengan jaket, slayer, sarung tangan, kain penutup kaki, helm dan 2 tas besar andalannya.. ibu menempuh beberapa kilometer (berapa ya??) menuju sekolah tempatnya mengajar. Menjelang sore, ibu kembali hadir di rumah dengan kelelahannya sendiri. Selama aku di rumah, ibu selalu meluangkan waktu sorenya untuk jalan-jalan berdua denganku, sekedar cuci mata dan melepas penat karena beban kerja sehari-hari.
Aktivitas baru dari ibu, beberapa kali dalam seminggu beliau menerima satu/ dua orang murid SMU lain untuk les privat Bahasa Inggris di ruang tamu rumah kami. Tak jarang pula, malam harinya masih diisi dengan kesibukan bisnis sampingan yang kini sudah mulai menampakkan hasil yang tak sedikit. Betapa waktu sangat berharga bagi ibu!

Ngomong2 soal pekerjaan ibu, salah satu Pahlawan Tanpa Tanda Jasa inilah yang secara tidak langsung 'memprovokasiku' hingga terjebak di pekerjaan yg saat ini kutekuni. Belasan tahun hidup bersama seorang guru yang sepenuh hati mengabdi demi masa depan anak2 bangsa, aku melihat banyak hal positif yang ingin kutiru dari ibu. Tak sekedar perangkat otak yang selalu terasah karena tuntutan pekerjaan, tapi juga sifat unggul yang diperoleh ibu akibat interaksi dalam bekerja. Seorang guru dituntut sabar, ramah, keibuan, mengayomi, mampu melihat segala sesuatu secara objektif, serta rela mengorbankan waktu demi 'memperkaya' siswa-siswinya dengan ilmu.

Sifat keibuannya semakin kuat hari demi hari. Tatanan rumah kami merupakan kreativitasnya, berbagai perlengkapan rumah merupakan hasil perburuannya di berbagai tempat komersil, hidangan di meja makan harus lolos dari 'quality control'-nya, pakaian dan penampilan semua anggota keluarga.. hampir segala aspek dari kehidupan kami hingga poin2 terkecilnya, tak ada yg bisa lolos dari perhatiannya. Semakin kupikir, semakin ku heran. Ibu yg selalu ada di benakku adalah ibu yg senantiasa beraktivitas sambil mendendangkan berbagai jenis lagu.. dari keroncong, dangdut, pop sampai lagu gereja yg mendayu-dayu.

Bagi ibu, tak ada waktu luang kecuali jam tidur. Asal tidak tidur, ibu punya sejuta ide yang siap di-realisasi-kan, dengan atau tanpa dukungan orang lain. Koleksinya beragam: dari buku2 berbagai jenis, peralatan makan dan masak, tas, sepatu, baju dari segala jaman, sampai perhiasan beraneka warna dan bahan. Walau begitu serius, sedikit demi sedikit ibu mulai terkontaminasi juga dengan permainan yang disiapin adekku di komputer.

Bila kami (aku, adik dan Bapak) sering menyambut akhir hari dengan menyaksikan tontonan menjelang tengah malam di televisi, ibu 'hadir' diantara kami walau segera tertidur lelap dalam hitungan menit.

Ughhh.. susahnya jadi ibu!

=======
Mbak Wa
=======

Kakakku?? Bukan. Mbak Wa ini adekku. Entah kenapa n sejak kapan kupanggil dia dengan sapaan 'Mbak'. Aku masih ingat, kalau anak lain bahagia dapet adek karena bisa 'dikalah-kalahin', aku justru sebaliknya. Bahagianya sih sama, tp aku-lah yg lebih sering kalah ama adekku. Pertumbuhan tubuhnya lebih lancar dariku, ditambah dengan sikap cuek dan tak kenal rasa takut, adekku ini memang istimewa. Pengalamannya bergabung dengan tim pengibar bendera saat SMU dulu, membuatnya makin kuat dan lebih rapi dalam berpenampilan.

Cantik (walau sering disembunyikannya dengan malas menata diri),
rada tomboy (gaya busananya ga jauh2 dari celana jins yg ujungnya diinjek dan sepatu kets atau sandal jepit),
tertutup (sok misterius dengan rahasia2nya. curhat 'nanggung' adalah kebiasaannya),
perkasa (sekedar bukti bahwa dia emang anak Ibu kami yg perkasa),
ekspresif (terutama kalo ketawa),
hobi tidur (tapi males makan).

Beberapa kali aku menangkap sinyal 'minder'-nya padaku (hue hehehe.. geer-ku kali ya?), padahal aku juga minder ma dia. Bawa motor OK, renang jago.. pokoknya masalah fisik: serahkan pada Mbak Wa! Kekuatannya di atas cewek rata2. Otak ga kalah encer ma aku, walau beda aspek.

Mmm.. berhubung Mbak Wa ini sangat anti publikasi dan ga suka identitasnya terbongkar, cukup segini deh cerita tentang dia. Lagian, sejak kuliah di Jogja, sisi femininnya mulai kentara. Selebihnya.. pokoknya dia ni istimewa!

================
Adik Kecil(?)-ku
================

Namanya dik 'Yan', atau 'Han', atau 'Tolet' (semuanya berasal dari kependekan namanya yg diplesetkan). Sudah tak pantas lagi kusebut adik kecil, karena tak ada secuilpun di dirinya yang tidak lebih besar dariku. Mata besar dan bulu matanya yang lentik membuatku iri dari dulu hingga kini. Hidungnya besar. Pipi dan rahang besar, bahkan jerawat di atasnya juga besar! (hehe.. pizz Han!) Tangan dan jemarinya besar dan panjang. Kaki.. hhh.. no comment deh. Walau kurus, tinggi badan adekku ini di atas rata2. Pantes deh kl dia jadi inceran cewek2 di sekolahnya.

Biarpun cowok, perangainya lebih lembut dari kedua kakak perempuannya. Gaya berpakaiannya rapi dan necis.. bikin gemes yg ngliat. Masa' mau ke warung aja pake ikat pinggang n kaos dimasukin rapi ke celana? Padahal mbak-nya pake daster n ga sisiran! Ampuuun deh. Rancu sih.. sebenernya dia ni super rapi atau ga pede??

Kecerdasannya udah keliatan sejak kecil. Diajarin catur sama Bapak, dek Han mampu mengalahkan Bapak sesekali (beneran ga sih Pak?). Dipanggilin guru les privat organ, lulus dalam waktu singkat. Diajarin Bapak maen gitar akustik, sekarang pegangannya gitar elektrik. Bareng band yg dibentuk bareng temen2 sekolahnya, adekku ini mulai menunjukkan eksistensinya. Walau jarang bicara, gitarnya sering 'bunyi', kok!

"Ha?", ucapnya saat menyampaikan 'ya', 'tidak', bahkan menjawab pertanyaan dalam bentuk apapun. Hhh.. sepatah kata itulah yang paling sering terdengar. Pendiem? Pemalu? Cool?? Entahlah! Pokoknya dia cuma ngomong kalo dia merasa perlu ngomong. Tapi sekarang udah mulai pinter ngomong kok. Iya kan Han??

Satu kenangan berkesan bareng dek Yan adalah perjalanan ke Kuningan. Awalnya, aku udah kaget dengan berita Mbak Wa yang menyampaikan rencana dateng ke Bandung bareng Dek Yan. Hah?? Cowok rumahan itu mau diajak ke Bandung?? (belakangan kutahu, ternyata dia bersedia ikut ke Bandung karena pengen naek kereta! Hua hahahaha.) Berikutnya, selama perjalanan dan di Kuningan, kami (aku, Mbak Wa, M'Gun) makin yakin bahwa Dek Yan tu ga bisu. Tapi kenapa ya, kesehariannya kok lebih sering diem? Woiii Han, ngomong dong!

+++++++++++++

Yahh, demikian liputan singkat tentang orang2 paling berjasa dalam hidupku. Berjasa, terutama dalam membentuk aku menjadi aku seperti sekarang ini.
Trima kasih Tuhan, atas keluarga istimewa yang kauanugerahkan bagiku. Amin.

2 comments:

Guntur said...

Yap bener sekalee...
keluarga yang indah dengan keunikan, talenta masing-masing pribadi.
Dan tentunya saling melengkapi satu sama lain.

Senengnya punya keluarga besar, jadi ga kesepian di rumah pas ortu ga ada di rumah...

Anonymous said...

Hihihihi..
Kok jd curhat?
Sepi ya, jd anak tunggal??
Knapa dari dulu ga sering2 maen ke tempatku aja..
Minimal pasti ada mbak Yani!
Hehehehe.